Pages

Jumat, 26 April 2013

SENI TRADISIONAL JAWA BARAT




DAERAH Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung ternyata memiliki sejumlah seni tradisional yang sangat unik dan menarik. Salah satunya yakni seni kunclung. Kesenian ini merupakan kesenian khas masyarakat Cileunyi, khususnya masyarakat di Desa Cileunyi Wetan yang merupakan masyarakat huma. Tidak heran jika kesenian ini ditampilkan tatkala menjelang panen padi huma maupun saat akan menanam padi huma.

Beruntung penulis bisa menyaksikan kesenian yang terbilang langka ini beberapa waktu lalu. Walaupun sebenarnya menyaksikan seni kunclung ini serbakebetulan alias tidak disengaja. Pasalnya, saat itu belum saatnya panen maupun menanam padi huma. Kala itu, awal bulan Juni 20012 di Desa Cileunyi Wetan tengah digelar sebuah kariaan yang dilakukan warga, yakni Bah Eke yang kedatangan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Drs. Nunung Sobari, M.M. yang akan menyaksikan pewarisan seni kacapi janaka yang juga berkembang di daerah itu.

Namun penampilan seni kunclung ternyata mampu menarik perhatian penulis dan masyarakat lainnya. Tertlebih saat itu, seni kunclung dimainkan oleh sejumlah anak-anak kecil usia sekolah dasar. Sementara penarinya dua orang perempuan paruh baya dengan mengenakan kain kebaya berwana hijau muda. Kedua penari perempuan ini terus menari mengikuti irama kunclung atau bilah bambu berukuran besar yang dicowak bagian bawah sekitar 10 cm dari buku ke atas. Alat musik ini sangat khas, namun memiliki kesamaan dengan alat musik angklung dan calung. Jika dipukul, maka bambu ini akan mengeluarkan bunyi yang nyaring sesuai dengan ukuran bambu.

Makanya pada saat memainkannya, anak-anak ini tidak memukul secara berbarengan namun berirama sesuai ketukan alat musik kendang dan gamelan yang dimainkan oleh grup seni Lugay Maung (mamaungan atau sisingaan). Tarian yang dibawakankedua penari perempuan tua ini sangat sederhana namun mengandung isi dan nilai sangat dalam serta mengandung nilai magis. Sehingga siapapun yang menyaksikannya tanpa terasa badannya akan ikut bergerak dan bergoyang.

Sekalipun yang memainkan kesenian itu terbilang masih anak-anak yang tergabung dalam lingkung seni Rineka Cempaka Mekar Wagi, Kp. Nyalindung, Desa Cileunyi Wetan, namun hasil yang disuguhkan seperti kesenian yang dimainkan kalangan orang dewasa.

Tarian panen

Menurut Bah Eke, seni kunclung biasanya dimainkan ketika masyarakat Desa Cileunyi Wetan yang sebagian besar petani huma akan memanen padi huma. Beberapa hari sebelum panen, para petani biasanya menunggu di dangau atau saung yang dibangun di atas bukit untuk menjaga padi huma yang tengah menguning dari gangguan hewan seperti babi hutan. Seni kunclung dimainkan fungsinya pun untuk menakut-nakuti hama babi hutan maupun hama perusak lainnya.

"Selain itu, permainan seni kunlung ini untuk sekedar menghibur diri saat berada di atas huma. Biasanya, seni kunclung dimainkan oleh beberapa orang dan seorang diantaranya bertinda sebagai pemimpin juga sebagai penyanyi yang menyanyi dengan lagu sekenanya, terkadang ngabeluk. Jadi, dulunya seni ini sebagai kalangenan para petani," terangnya.

Sedangkan bambu yang digunakan segala jenis bambu, kecuali bambu yang berukuran kecil. Namun bambu gombong dan bambu hitam yang paling bagus. Selain kuat, ukurannya pun sangat besar. Untuk bisa dibuatkan alat musik kunclung, bambu ini harus dikeringkan secara alama selama satu bulan lebih. "Ini dilakukan agar kadar airnya berkurang. Bambu yang kering sangat mudah dan enak dibuat alat musik, sehingga suara yang dihasilkan tidak akan berubah," paparnya.

Sementara ukuran bambu sangat variatif, mulai dari ukuran 50 cm hingga 2500 cm. "Itu semua tergantung luas buku bambu. Karena bambu untuk kunclung tidak boleh ada buku di tengah-tengahnya," ujarnya lagi.
(kiki kurnia/"GM")**


http://ibnisakhiy.blogspot.com/
SISINGAAN
Sisingaan adalah suatu kesenian khas masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menampilkan 2-4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil menari. Di atas boneka singa yang diusung itu biasanya duduk seorang anak yang akan dikhitan (sunat) atau seorang tokoh masyarakat.


http://ibnisakhiy.blogspot.com/
TARI TOPENG
Secara historis, pertunjukkan tari topeng diawali di Cirebon tepatnya pada abad ke-19 yang dikenal dengan Topeng Bahakan. Menurut T. Tjetje Somantri (1951) daerah Jawa Barat antara lain Sumedang, Bandung, Garut dan Tasikmalaya pada tahun 1930 didatangi oleh rombongans topeng berupa wayang wong dengan dalangnya bernama Koncer dan Wentar. Berdasarkan data historis inilah teori awal munculnya tari topeng ke Jawa Barat (Priangan) ditetapkan sebagai awal perkembangan Tari Topeng Priangan.


http://ibnisakhiy.blogspot.com/
TARI WAYANG
Tari wayang mulai dikenal masyarakat pada masa kesultanan Cirebon pada abad ke-16 oleh Syekh Syarif Hidayatullah, yang kemudian disebarkan oleh seniman keliling yang datang ke daerah Sumedang, Garut, Bogor, Bandung dan Tasikmalaya.






http://ibnisakhiy.blogspot.com/
KESENIAN ADU DOMBA
Adu domba merupakan salah satu kesenian khas rakyat jawa barat yang cukup digemari, terutama di kalangan tradisional. Kesenian ini merupakan peninggalan leluhur yang masih bertahan eksistensinya hingga saat ini. Pada intinya adu domba ialah ajang pamer ketangkasan hewan ternak yang pada akhirnya akan menaikan gengsi suatu perkumpulan ternak tertentu. Para pesertanya ialah peternak-peternak domba yang tersebar hampir di seluruh jawa barat, terutama daerah garut, sumedang, bandung, majalengka dan lainya. Event adu domba dilaksanakan setiap tahun dengan sistim kompetisi, hampir setiap bulan kegiatan ini dilaksanakan bergilir di daerah-daerah. Di bandung arena adu domba salah satunya terletak di lebak siliwangi.
Setiap event adu domba selalu dipadati oleh penonton. Kegiatan ini juga memiliki gengsi yang cukup tinggi karena banyak tokoh-tokoh sunda yang juga merupakan penggemar sekaligus  pemiliknya, seperti Kang Ibing (alm) dan lain lain.

http://ibnisakhiy.blogspot.com/
GAMELAN DEGUNG
Ada beberapa gamelan yang pernah ada dan terus berkembang di Jawa Barat, antara lain Gamelan Salendro, Pelog dan Degung. Gamelan salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari, kliningan, jaipongan dan lain-lain. Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro, hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyaraka dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Hal ini menandakan cukup terwakilinya seperangkat gamelan dengan keberadaan gamelan salendro, sementara gamelan degung dirasakan cukup mewakili kekhasan masyarakat Jawa Barat. Gamelan lainnya adalah gamelan Ajeng berlaras salendro yang masih terdapat di kabupaten Bogor, dan gamelan Renteng yang ada di beberapa tempat, salah satunya di Batu Karut, Cikalong kabupaten Bandung. Melihat bentuk dan interval gamelan renteng, ada pendapat bahwa kemungkinan besar gamelan degung yang sekarang berkembang, berorientasi pada gamelan Renteng

http://ibnisakhiy.blogspot.com/Wayang Golek
Asal mula wayang golek tidak diketahui secara jelas karena tidak ada keterangan lengkap, baik tertulis maupun lisan. Kehadiran wayang golek tidak dapat dipisahkan dari wayang kulit karena wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit. Ada yang menyebutkan bahwa pada tahun 1583 Masehi Sunan Kudus membuat wayang dari kayu yang kemudian disebut wayang golek yang dapat dipentaskan pada siang hari. Sejalan dengan itu Ismunandar (1988) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16 Sunan Kudus membuat bangun 'wayang purwo' sejumlah 70 buah dengan cerita Menak yang diiringi gamelan Salendro. Pertunjukkannya dilakukan pada siang hari. Wayang ini tidak memerlukan kelir. Bentuknya menyerupai boneka yang terbuat dari kayu (bukan dari kulit sebagaimana halnya wayang kulit). Jadi, seperti golek. Oleh karena itu, disebut sebagai wayang golek.


http://ibnisakhiy.blogspot.com/
JAIPONG
Tari ini diciptakan oleh seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira, sekitar tahun 1960-an, dengan tujuan untuk menciptakan suatu jenis musik dan tarian pergaulan yang digali dari kekayaan seni tradisi rakyat Nusantara, khususnya Jawa Barat. Meskipun termasuk seni tari kreasi yang relatif baru, jaipongan dikembangkan berdasarkan kesenian rakyat yang sudah berkembang sebelumnya, seperti Ketuk Tilu, Kliningan, serta Ronggeng.


http://ibnisakhiy.blogspot.com/
CALUNG
Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan memukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih). Pengertian calung selain sebagai alat musik juga melekat dengan sebutan seni pertunjukan. Ada dua bentuk calung Sunda yang dikenal, yakni calung rantay dan calung jinjing.


http://ibnisakhiy.blogspot.com/
TARI & IBING PENCAK SILAT
Salah satu aspek yang tidak kalah penting dalam pencak silat adalah aspek seni pencak silat, yang lebih populer di Jawa Barat dengan sebutan ibing namun tidak sedikit orang menyebut aspek seni pencak silat ini dengan istilah tari pencak silat padahal dalam kenyataan yang sebenarnya bahwa istilah ibing pencak silat dengan istilah tari pencak silat mempunyai pengertian yang berbeda. Ibing Pencak Silat mempunyai pengertian yang lebih mendalam dibanding tari pencak silat, karena dalam ibing pencak silat selain ada unsur keindahan gerak di dalamnya, mempunyai tujuan akhir menjatuhkan lawan, sehingga dalam ibing pencak silat unsur beladirinya lebih menonjol. Sedangkan istilah tari lebih ditekankan pada unsur keindahannya saja tidak ada unsur beladirinya, seperti tari-tarian yang sering kita lihat.

http://ibnisakhiy.blogspot.com/
ANGKLUNG
Sejak Angklung adalah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus, yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung masih sebatas kepentingan kesenian lokal atau tradisional. Namun karena bunyi-bunyian yang ditimbulkannya sangat merdu dan juga memiliki kandungan lokal dan internasional seperti bunyi yang bertangga nada duremi fa so la si du dan daminatilada, maka angklung pun cepat berkembang, tidak saja dipertunjukan lokal tapi juga dipertunjukan regional, nasional dan internasional. Bahkan konon khabarnya pertunjukan angklung pernah digelar dihadapan Para pemimpin Negara pada Konferensi Asia Afika di Gedung Merdeka Bandung tahun 1955.
Sepeninggal Daeng Sutigna kreasi kesenian angklung diteruskan oleh Mang Ujo dan Erwin Anwar. Bahkan Mang Ujo telah membuat pusat pembuatan dan pengembangan kreasi kesenian angklung yang disebut ‘Saung angklung Mang Ujo” yang berlokasi di Padasuka Cicaheum Bandung. Salah satu program yang ia lakukan khususnya untuk mempertahankan kesenian angklung adalah memperkenalkan angklung kepada para siswa sekolah, mulai TK, sampai dengan tingkat SLTA dan bahkan telah menjadi salah satu kurikulum pada pada mata pelajaran lokal. Kini Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © nuraisyah fitri fifi. Template created by Volverene from Templates Block
lasik surgery new york and cpa website solutions
WP theme by WP Themes Expert